menu

Selasa, 25 April 2017

Ketika Iman Bicara.



Ketika Iman Bicara.
Ingatkah kita  kisah sumayah  wanita yang pertama kali  mati syahid di dalam islam. mengapa dia begitu teguh mempertahankan tauhid meskipun siksa bertubi – tubi menderahnya?
mengapa sampai abu jahal  membunuhnya dengan cara yang   kejam , sumayah tetap teguh dengan keislamannya.?
Pernakah terbayang, ketika bilal bin robah, disiksa dibawah terik matahari  yang menyengat, punggungnya terbakar oleh pasir yang menidih, dadahnya di timpah dengan batu besar yang panas , ia di paksa untuk kembali  murtad. Namun mengapa ia tetap bertahan dengan kalimat ahad..ahad..ahad..?
Atau ingatkah kita akan kisah keluarga tukang sisir fir`au, yang di kenal dengan nama masitoh, ketika  satu demi satu anaknya  dilemparkan ke tungku besar dengan api yang mendidi, tak lama jasad sang anak hanya terlihat tulang penulang  yang menyimbul  didihan air. Mengapa mereka begitu teguh memegang iman , bahkan tanpa ragu menyusul anak-anaknya kedalam tungku . kisah  para pengengam bara memang sarat akan misteri . Potret sejarah  yang senantiasa  mengundang sejak kagum  sekaligus tanda tanya.
Apa yang membuat mereka begitu  gigi memegang  prinsip meski siksaan mendera sebelum meregang nyawa. Jawabnya ada pada, apa yang mereka bawa saat menghadapi  siksa hingga datang kematian.  Ia… manisnya iman. telah membuat mereka tak peduli apapun  yang akan terkobarkan .
Imanlah yang membuat mereka tetap teguh meski padai cobaan. begitu hebat  menghepaskan . iman pula yang membuat Abu Bakar  tanpa pikir panjang  menyerahkan seluruh hartanya dalam  perang tabuk  . imanlah yang membuat tenang  dan mantep  menyisahkan Allah dan Rasulullahnya  sebagai  tinggalnya untuk keluarganya.
Dalam bentuk beragam lagi, manisnya iman mampu membuat seorang muslim begitu tenang  menghadapi cobaan dunia. Ia tak perna takut mati kelaparan gara-gara meninggalkan bisnis ribah. ia tak perna takut menyuarakan kebenaran  meski cemo’oh dan penjara selalu mengintainya.  Ia tidak perna ragu meninggalkan semua kenikmatan dan fasilitas duniawi untuk pergi berhijrah menuju Ridha Allah.dengan mantap ia tinggalkan pekerjaan dan profesi  ketika itu, menghalangi dari nikmat  beribadah kepada Allah .
 ia tidak perna bimbang meninggalkan tana air dan sanak keluarga untuk menyambut seruan jihad  di negeri seberang . ia tidak perna merasa hina dan mengeluh  meski  apa yang ia lakukan membuat orang lain marah, mencemo`oh, menyiksa, memenjarakan bahkan  membunuhnya.
Akan selalu terenyang di telinganya  ucapan Ibnu Taimiyah saat di jeploskan dalam  penjara . apa yang di perbuat musuh terhadapku ? kebun dan tamanku selalu ada di dadaku. Kemanapun aku pergi  akan selalu menyertaiku.di penjara  adalah kesempatan untuk berkholwat di bunuh berarti aku mati  syahid, di usir dan deportasi adalah kesempatan bertamasya. Sungguh di dunia ini ada surga , barangsiapa yang belum perna memasukinya . dia tidak akan perna bisa memasuki surga akherat  ialah surga keimanan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar