Ketika
Iman Bicara.
Ingatkah kita kisah
sumayah wanita yang pertama kali mati syahid di dalam islam. mengapa dia begitu
teguh mempertahankan tauhid meskipun siksa bertubi – tubi menderahnya?
mengapa sampai abu jahal membunuhnya dengan cara yang kejam , sumayah tetap teguh dengan keislamannya.?
mengapa sampai abu jahal membunuhnya dengan cara yang kejam , sumayah tetap teguh dengan keislamannya.?
Pernakah terbayang, ketika bilal bin robah, disiksa dibawah terik matahari yang menyengat, punggungnya terbakar oleh
pasir yang menidih, dadahnya di timpah dengan batu besar yang panas , ia di
paksa untuk kembali murtad. Namun
mengapa ia tetap bertahan dengan kalimat ahad..ahad..ahad..?
Atau ingatkah kita akan kisah keluarga tukang sisir fir`au, yang di
kenal dengan nama masitoh, ketika satu
demi satu anaknya dilemparkan ke tungku besar
dengan api yang mendidi, tak lama jasad sang anak hanya terlihat tulang
penulang yang menyimbul didihan air. Mengapa mereka begitu teguh
memegang iman , bahkan tanpa ragu menyusul anak-anaknya kedalam tungku .
kisah para pengengam bara memang sarat
akan misteri . Potret sejarah yang
senantiasa mengundang sejak kagum sekaligus tanda tanya.
Apa yang membuat mereka begitu
gigi memegang prinsip meski
siksaan mendera sebelum meregang nyawa. Jawabnya ada pada, apa yang mereka bawa
saat menghadapi siksa hingga datang
kematian. Ia… manisnya iman. telah
membuat mereka tak peduli apapun yang
akan terkobarkan .
Imanlah yang membuat mereka tetap teguh meski padai cobaan. begitu
hebat menghepaskan . iman pula yang
membuat Abu Bakar tanpa pikir
panjang menyerahkan seluruh hartanya
dalam perang tabuk . imanlah yang membuat tenang dan mantep
menyisahkan Allah dan Rasulullahnya
sebagai tinggalnya untuk
keluarganya.
Dalam bentuk beragam lagi, manisnya iman mampu membuat seorang
muslim begitu tenang menghadapi cobaan
dunia. Ia tak perna takut mati kelaparan gara-gara meninggalkan bisnis ribah.
ia tak perna takut menyuarakan kebenaran
meski cemo’oh dan penjara selalu mengintainya. Ia tidak perna ragu meninggalkan semua
kenikmatan dan fasilitas duniawi untuk pergi berhijrah menuju Ridha
Allah.dengan mantap ia tinggalkan pekerjaan dan profesi ketika itu, menghalangi dari nikmat beribadah kepada Allah .
ia tidak perna bimbang
meninggalkan tana air dan sanak keluarga untuk menyambut seruan jihad di negeri seberang . ia tidak perna merasa
hina dan mengeluh meski apa yang ia lakukan membuat orang lain marah,
mencemo`oh, menyiksa, memenjarakan bahkan
membunuhnya.
Akan selalu terenyang di telinganya
ucapan Ibnu Taimiyah saat di jeploskan dalam penjara . apa yang di perbuat musuh
terhadapku ? kebun dan tamanku selalu ada di dadaku. Kemanapun aku pergi akan selalu menyertaiku.di penjara adalah kesempatan untuk berkholwat di bunuh
berarti aku mati syahid, di usir dan
deportasi adalah kesempatan bertamasya. Sungguh di dunia ini ada surga ,
barangsiapa yang belum perna memasukinya . dia tidak akan perna bisa memasuki
surga akherat ialah surga keimanan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar